widgeo.net
Tampilkan postingan dengan label Leadership lesson. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Leadership lesson. Tampilkan semua postingan

Rabu, 16 Oktober 2013

Bangkit itu . . .



Bangkit itu susah. . . .
Susah melihat orang lain susah, senang melihat orang lain senang

Bangkit itu takut. . . .
Takut korupsi, takut makan yang bukan haknya

Bangkit itu mencuri. . . .
Mencuri perhatian dunia dengan prestasi

Bangkit itu marah. . . .
Marah bila martabat bangsa di lecehkan

Bangkit itu malu. . . .
Malu jadi benalu, malu karena minta melulu

Bangkit itu tidak ada. . . .
Tidak ada kata menyerah, tidak ada kata putus asa


Bangkit itu aku. . . . Untuk Indonesia ku

Jumat, 18 November 2011

Kepemimpinan ala Walikota Surakarta/Solo Ir. Joko Widodo

Seminar Antar Jurusan Fakultas Politik Pemerintahan
“Kebijakan Pemberdayaan Usaha Kecil dan Menengah di Kota Solo”

Jatinangor – Rabu, 16 November 2011 bertempat di gedung VIP Graha Wyata Praja Kampus IPDN Jatinangor sejumlah civitas akademika IPDN (Dosen, pejabat struktural & fungsional serta Praja) melaksanakan seminar antar jurusan fakultas politik pemerintahan yang bertema “Kebijakan Pemberdayaan Usaha Kecil dan Menengah di Kota Solo” dengan pembicara Walikota Solo Ir. Joko Widodo.
      Acara di awali dengan laporan oleh ketua panitia, yang dalam hal ini di jabat oleh Bapak Dedi Riyandono yang merupakan dekan Fak. Politik Pemerintahan IPDN. Dalam laporannya, ketua panitia mengatakan bahwa tujuan utama dari seminar ini yaitu untuk menggali lebih jauh tentang motto yang di bawa Walikota Solo dalam membangun Kota Surakarta yaitu “The spirit of Java”.
      Selanjutnya acara di buka oleh Rektor IPDN yang di wakilkan oleh Purek 1 Prof.DR.H.Wirman Safri M.Si . Dalam sambutannya Prof. Wirman sempat menyinggung soal sosok dari Walikota Solo “beliau adalah sosok pamong yang sesungguhnya, karena turun langsung ke lapangan. Bahkan gajinya tidak di ambil, tetapi di berikan kepada masyarakat Surakarta, sesuatu yang patut kita contoh dari beliau”.
      Acara yang di pandu langsung oleh Pak Chobib Sholeh ini berlangsung hangat, karena di sertai oleh canda tawa dari para peserta seminar.
      Dalam kesempatan itu Bapak Joko Widodo yang lebih akrab di sapa Pak Jokowi ini mengisahkan mengenai kebiasaan pemerintah dalam melakukan penertiban PKL (Pedagang Kaki Lima) dengan membawa buldoser, dan menghancurkan tempat jualan tanpa adanya komunikasi. Menurut beliau, hal ini keliru. Pemerintah seharusnya bisa lebih intelek dalam bersikap untuk melakukan penertiban PKL.
      Dalam suatu kesempatan pada saat 3 bulan kepemimpinannya Pak Jokowi berkisah bahwa beliau di datangi oleh Kepala Sat Pol PP Kota Solo, dia mengajukan pengadaan 400 pentungan, 400 tameng serta kalau perlu 4 buah pistol untuk berjaga-jaga pada saat bekerja di lapangan. Sontak saat itu Pak Jokowi kaget dan langsung membentak Kepala Sat Pol PP tersebut, “kamu mau ngajak perang masyarakat atau mau menertibkan masyarakat? Anda itu pamong, yang seharusnya mampu menjadi “among” bagi masyarakat” . Kemudian Kepala Sat Pol PP itu balik bertanya, “ terus, kami ke lapangan bekerja pakai apa Pak?” Pak Jokowi pun menjawab “ ke lapangan yaa pakai ilmu. Pakai Ilmu Intervensi Sosial namanya (Pendekatan Personal)”.
      Inilah salah satu gebrakan Pak Jokowi dalam usahanya untuk merelokasi para PKL. Beliau berhasil menaklukkan PKL dengan intelektual, bukan dengan kekerasan. Salah satu contoh di kisahkan ketika beliau ingin merelokasi PKL di banjarsari yang notabene telah di duduki PKL selama 20 tahun. Beliau melakukan pendekatan personal dengan mengundang para PKL untuk makan bersama, dan tidak tanggung-tanggung, beliau tidak hanya sekali dua kali mengundang para PKL untuk makan bersama, tapi sampai 54 kali !! Ini merupakan salah satu metode intervensi social  yang di lakukan oleh Pak Jokowi untuk mengajak para PKL agar mau berunding.
      Setelah akhirnya para PKL tersebut bersedia untuk di relokasi beliau tidak berhenti untuk berinofasi, proses pemindahannya di lakukan secara arak-arakan adat yang di sebut “kirab boyongan”. Ini merupakan salah satu strategi pemasaran untuk menarik perhatian masyarakat.
      “PKL bertebaran dimana-mana karena tidak di beri ruang atau space. Jangan cuman supermarket atau Mall yang di beri izin”. Demikian pendapat Pak Jokowi terkait programnya dalam mendukung usaha mikro rakyat kecil. Fungsi pemerintahan menurut beliau diantaranya yaitu manajemen pengendalian dan , memberi pelayanan. Tidak hanya membangun pasar, tapi beliau juga memberikan diklat kewirausahaan dan manajemen keuangan bagi PKL, sehingga para PKL juga memiliki skill yang hebat.

Sesi Tanya-Jawab :
1.   Apa yang harus di miliki pemimpin? (Dosen, Andi Pitono)
Pemimpin itu harus melihat, mendengar dan mendatangi tempat permasalahan secara langsung. Terkadang pemimpin itu terlalu menikmati jabatan yang di duduki dan lupa membuat action untuk rakyatnya. Ini yang keliru dari kebanyakan pemimpin kita saat ini. Dan yang paling penting adalah jangan menunggu bola, tapi jemputlah bola.
2.  Bagaimana caranya sehingga pasar tradisional bisa bersaing dengan Mall atau Supermarket ? (Wasana Praja)
Secara fakta yang ada di lapangan, orang yang jualan di pasar tidak bayar pajak, tidak bayar sewa gedung, otomatis lebih murah, dan yang dijual di pasar lebih fresh. Selain itu saya melakukan kampanye kepada warga khususnya ibu-ibu bahwa kalau mau jalan-jalan ke Mall atau Supermarket silahkan saja, tetapi belanjanya di pasar.

Jumat, 07 Oktober 2011

Pelajaran Kepemimpinan Part I

The Leadership of JUSUF KALLA

Muhammad Jusuf Kalla, Wakil Presiden RI 2004-2009

       Sukses adalah keinginan dari setiap insan di dunia ini, baik itu sukses di dunia maupun sukses di akhirat kelak, amien. Begitu banyak orang-orang di dunia ini yang telah sukses dalam menjalani hidup ini, entah itu mereka menggapainya dengan cara apa, tapi semua itu di dapat tidak dengan semudah membalikkan telapak tangan, semua itu membutuhkan perjuangan dan tekad yang kuat dari dalam diri kita.
      Experience is a good teacher”, merupakan sebuah pepatah klasik yang sudah sangat sering kita dengarkan, pengalaman merupakan guru yang baik. Oleh karena itu mari kita mencari seorang guru dan cari tahu pengalaman2nya, sehingga kita pun bisa belajar dari pengalamannya dan bisa menjadi lebih baik darinya.
      Nah pada kesempatan ini, mari kita belajar dari sosok seorang guru “JUSUF KALLA”. Pasti semua sudah tau siapa beliau. Mantan Wakil Presiden kita di periode 2004-2009. Begitu banyak pengalaman hidupnya yang dapat kita simak dan patut di jadikan tauladan bagi kita semua. Berikut merupakan pendapat beberapa orang tentang sikap pak JK yg mungkin bisa kita jadikan tauladan :
1.   Risk-taker
Pak JK memiliki satu karakter penting seorang pemimpin yang di sebut “risk-taker”. Ia mengambil keputusan yang tidak popular tetapi berguna bagi bangsa untuk jangka panjang, seperti menaikkan harga bahan bakar minyak yang ditentang banyak orang, adalah contoh pemimpin yang berkarakter “risk-taker”.  (Pendeta Dr. Richard Daulary MA, Sekretaris umum Persekutuan gereja-gereja di Indonesia (PGI) )
2.  Pada saat Temu Nasional Teknologi di kompleks Batan, Serpong, 31 Juli 2007, Pak JK pernah bertanya kepada Menteri Negara Riset dan Teknologi Kabinet Indonesia bersatu (Kusmayanto Kadiman) seperti demikian “ ini kusmayanto dan kawan-kawannya ini termasuk kategori bola tenis atau peuyeum alias tape? “ maksud dari pertanyaan tersebut adalah, kalau bola tenis makin keras kita banting, makin keras dia membal. Bangkit dia. Bereaksi keras dia. Bangun. Sedangkan tape, makin keras di banting, makin nemplok di lantai. Jadi sekarang tanyakan kepada diri kita, termasuk tipe yang manakah diri kita, bola tenis atau tape?? Ketika kita mendapatkan suatu masalah, lalu kita di kritik keras oleh orang lain maka akankah kita marah?akankah kita makin terpuruk??atau justru sebaliknya, kita akan memperbaiki kesalahan kita dan menjadi lebih baik?. Bola tenis atau tape, silahkan pilih mana yang menurut anda sesuai dengan karakter anda !!
3.  Visioner
“A vision without action is just a dream. Action without vision is just a waste of time. A vision with action is able to change the world!”. Kata bijak yang pernah diucapkan Bapak Bangsa Afrika Selatan, Nelson Mandela, pantas untuk di terapkan pada sosok seperti Muhammad Jusuf Kalla. Apabila kita mengenalnya secara dekat , maka kita akan tahu bahwa jusuf kalla adalah seorang yang mampu menyelaraskan antara pikiran (visi), ucapan dan tindakannya. (Suryopratomo, Pemimpin redaksi KOMPAS 2000-2008, kini Direktur Pemberitaan METRO TV)
4.  Tegas dan Berani
Prinsip hidup pak JK dalam sebuah buku tertulis seperti ini “lebih baik kalah dalam bertempur, tapi tetap memiliki harga diri dan kehormatan, daripada menjadi pecundang yang takut kalah, tidak berani menghadapi risiko, dan memilih hanya menjadi penonton”.
5.  Berjiwa besar
JK bukanlah tipe pemimpin yang ambisius. Dalam berbagai kesempatan berdiskusi dengan beliau, saya bisa merasakan kesungguhan, ketulusan dan kesiapannya apabila tidak lagi menduduki jabatan structural. JK menyadari menjadi pemimpin itu tidak mudah. Pemimpin tidak boleh takut pada keramaian, tapi juga tidak perlu takut pada kesepian dan kesendirian. Gajah mati meninggalkan  gading. Harimau mati meninggalkan belang. Manusia mati meninggalkan nama. Sesungguhnya pemimpin itu tidak pernah mati. Sejarah bisa dimanipulasi dengan banyak cara. Tapi emas akan tetap menjadi emas. Jusuf Kalla telah berhasil mengikuti jalan hidup Nabi Muhammad, menjadi pedagang, kemudian menjadi pemimpin yang menempuh jalan sunyi. (Johan O. Silalahi, Pendiri Johans Foundation & Negarawan Center : Untuk pengembangan Kepemimpinan & Kenegarawanan di Indonesia)

      Semoga tulisan ini bermanfaat buat rekan2 semuanya. Semoga ada hikmah, ada pelajaran yang bisa kita petik dari tulisan ini. Tetap semangat, kita kaum muda merupakan para generasi penerus bangsa, siapa lagi yang mau mengembangkan Negara Indonesia kalau bukan kita, siapa lagi yang mau memikirkan Indonesia kalau bukan kita, siapa lagi yang akan mengharumkan nama Indonesia kalau bukan kita. Karena kita adalah Generasi Muda Penerus Pembangunan Bangsa. Mari kita perbaiki diri sejak dini, mengasah kemampuan dan keterampilan sehingga kelak kita benar2 bisa bermanfaat bagi Negara dan Bangsa kita, Indonesia !!

*Di sadur dari buku “MEREKA BICARA JK, National Press Club”