widgeo.net
Tampilkan postingan dengan label It's about LOVE. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label It's about LOVE. Tampilkan semua postingan

Selasa, 27 Desember 2011

Afif bicara soal cinta : Arti cinta sesungguhnya.

Cinta itu. . . .?!!?


            Cinta. . .cinta. .cinta. Yah dewasa ini, para remaja seakan di “galaukan” oleh suatu hal yang entah apa defenisinya (karena sampai saat ini para ahli belum pernah sepakat tentang defenisi cinta itu apa) masih merupakan sesuatu yang misterius yang bisa datang secara tiba2 dan menghantui perasaan para remaja saat ini. Sebenarnya sih bukan cuman remaja yang di “galaukan” dengan cinta, terkadang anak kecil bahkan orang tua pun bisa kena syndrom galau akibat cinta. Namun yang ingin saya singgung di sini cuman sebatas remaja saja (berhubung saat ini saya tergolong remaja, bukan anak2 ataupun orang tua, jadi yg di bicarakan tentang remaja saja lah, hehehe).
            Tapi sebenarnya penasaran juga, apa sih defenisi cinta itu?!?? Setelah tanya ke “mbah” google dia nge-jawabnya gini “Cinta adalah sebuah emosi dari kasih sayang yang kuat dan ketertarikan pribadi (Wikipedia)” . Grup Band Ungu dalam lirik lagunya mengatakan, “Cinta adalah misteri dalam hidup”, Afgan mengatakan “cinta ku bukan cinta biasa” (Lho kok ?! ini mah judul lagunya afgan, tp gpp lah, kan ada kata cintanya ;) dan masih banyak lagi defenisi cinta itu. Kalau menurut saya, cinta itu adalah LOVE. Love itu . . . . adalah Bahasa Inggris (hahaha, jayus banget fif) . Ahhh….ntah lah apa itu cinta, gak penting apa defenisi cinta itu, yg terpenting menurut saya kita ngerti dan tau apa itu cinta sebenarnya.
            Berbicara soal cinta saya selalu teringat dengan film Ayat-ayat Cinta (AAC) karya mas Hanung Bramantyo yang merupakan film hasil adaptasi dari novel best seller karya Habiburrahman El Shirazy. Dari film ini saya mempelajari apa arti cinta itu yang sebenarnya. Dalam film ini sangat jelas perbandingan rasa cinta yang di miliki Maria Girgis (Carissa Puteri) dan Aisha Greimas (Rianti Cartwright) terhadap Fahri bin Abdullah Shiddiq (Fedi Nuril). Maria dan Aisha memang menaruh perasaan yang sama terhadap Fahri, namun mereka memiliki persepsi berbeda tentang apa arti cinta sesungguhnya.
            Menurut Maria cinta itu harus memiliki, oleh karena itu tak peduli dengan keadaan sekitar, yang dia tau ketika dia mencintai Fahri, dia harus memilikinya, dan ketika dia tidak mendapatkan cinta yang dia harapkan Maria akhirnya jatuh sakit, dan kesehatannya semakin hari semakin drop. Hal ini sangat bertolak belakang dengan rasa cinta yang di tunjukkan Aisha kepada Fahri. Menurut Aisha sendiri cinta itu tidak harus memiliki, ketika Fahri tertimpa bencana dan Maria adalah satu2nya kunci untuk menyelesaikan masalahnya namun Fahri harus terlebih dahulu menikahinya. Aisha dengan penuh keikhlasan memberi izin kepada Fahri (yang notabene sudah menjadi suaminya) untuk menikahi Maria. Di sini kita bisa melihat bagaimana pengorbanan yang di berikan Aisha terhadap orang yang di cintainya, ia rela dimadu demi kebahagiaan suaminya (Fahri) agar ia bisa bebas dari penjara, walaupun sebenarnya itu menghancurkan hatinya, namun menurutnya ketika orang yang di cintainya bahagia, maka ia pun akan ikut berbahagia, cinta itu tak harus memiliki.
            Seperti itulah arti cinta sesungguhnya. Ketika kita mencintai seseorang berarti kita ingin membahagiakan orang yang kita cintai, dan ketika orang yang kita cintai bahagia, maka barulah kita juga ikut berbahagia. Namun yang terjadi saat ini, ketika kita mencintai orang, terkadang kita tidak peduli perasaan orang yang kita cintai, yang kita tau hanya bagaimana kita bisa memiliki orang yang kita cintai, tak peduli bagaimanapun caranya. Ketika hal ini terjadi pada diri kita, maka bersegeralah introspeksi diri sebelum diri kita menyakiti hati orang yang kita cintai (tentunya kita semua tidak ingin ini terjadi kan?!).
            John C. Maxwell dalam sebuah buku menulis demikian “anda memberi bukan karena mengharap imbalan, anda memberi karena itu adalah hal yang baik untuk dilakukan” . Sama seperti cinta, ketika kita mencintai seseorang itu berarti kita memberi perhatian dan kasih sayang kepada orang itu, tidak untuk mengharap imbalan ataupun mengharap timbal balik yang sama, namun karena memberi seperti yang dikatakan oleh John C. Maxwell adalah hal yang baik untuk di lakukan. Ketika kita memberi secara tulus ikhlas, maka kita tidak usah mengharap imbalan itu datang, karena tanpa di harap atau di tunggu sekalipun, maka akan datang balasan yang lebih dari yang kita harapkan atau yang kita bayangkan. Kuncinya adalah ikhlas memberi.
            Namun, sebelum kita berani mencintai orang lain, mari kita belajar terlebih dahulu mencintai orang2 terdekat kita, seperti orang tua, saudara ataupun keluarga kita. Ketika kita sudah bisa mencintai orang2 terdekat kita, barulah kita mulai mencintai orang lain. Kalau orang tua, saudara ataupun keluarga saja yang merupakan orang terdekat kita, yang mana kita masih memiliki ikatan darah dengannya tidak bisa kita cintai dengan baik, lantas bagaimana kita akan mencintai orang lain yang bisa jadi tidak memiliki hubungan darah sama sekali dengan kita?! Apalagi kalau bukan adanya campur tangan “nafsu” di dalamnya?!? Kita harus mengakui akan hal tersebut. Oleh karena itu, mari kita belajar mencintai orang terdekat kita terlebih dahulu sebelum kita berani mencintai orang lain.
            Mungkin inilah arti cinta menurut perspektif saya, dimana cinta itu tidak harus memiliki, intinya adalah ketika orang yang kita cintai bahagia maka kita pun akan bahagia karenanya. Ikhlas memberi rasa cinta serta tulus dalam memberi kasih sayang tanpa mengharap imbalan merupakan kunci dari makna cinta yang sesungguhnya.

Minggu, 13 November 2011

Tumpah Ruah Isi Hati

Cacian Kehidupan Cintaku




Apa kabarmu di sana??
Sehatkah dirimu?enggan kah dirimu tuk menanyakan kabarku, walau sekenanya saja??
Disini, ku mengkhawatirkan mu

Senantiasa, di tiap malam ku selalu terjaga karena tak mendengar suaramu
Ku rindu…ku rindu akan kasih sayang itu
Ku rindu……ku rindu akan canda tawa itu
Ku rindu………ku rindu akan semua sikap manja nan bocah mu

Kadang ku lihat bintang nan jauh disana, memancarkan sinar rembulan kemudian memantulkannya ke bumi dengan sempurna
Namun dapatkah rasa rindu ini dapat memancar layaknya sinar rembulan yang kemudian dipantulkan oleh bintang sehingga semua makhluk mengetahui akannya??

Rasa ini mungkin terlalu jauh ku tancapkan ke dalam hatiku
Sehingga ketika rasa itu sudah tak terbalas, dia akan mati dan merusak hatiku, jauh hingga lubuk hati terdalamku
Sehingga ketika rasa ini ingin ku cabut dari hatiku, begitu sakit terasa untuk menariknya keluar dari hatiku, bahkan ketika sudah ku cabut pun, pasti bekas nya tak mampu ku sembunyikan
Bekas itu akan Nampak dengan jelas telah merobek dan meluluh lantahkan hatiku
Bekas itu terlalu dalam, dan mungkin terlalu besar untuk dapat ku tutupi

Tentang mu, tentang ku, dan tentang kita
Semua masih terbayang dengan jelas di benakku
Selalu menghantuiku dan menjadi beban di pikiranku
Tak dapat ku hilangkan, tak dapat ku lenyapkan, ntah mengapa. . .
Di sini, sekarang ku merenung
Berpikir
Mencoba mengingat dan menghubungkan setiap memori yang tersimpan
Adakah sesuatu yang dapat merubah rasa ini menjadi rasa benci akan mu
Sehingga tak ada lagi rasa ini yang terasa menyesakkan

Ada. . .Namun tetap saja tak dapat merubah segalanya
Ntah mengapa, apa yang terjadi sebenarnya??
Setulus itukah rasa ini kepadamu
Setinggi itukah kadar rasa ini kepadamu
Sehingga tak dapat terganti rasa ini oleh apapun

Tatkala saya berpikir dan merenung lagi
Ketika saya rindu akan mu, apakah engkau rindu akan ku juga
Ketika saya hendak mengetahui kabarmu, apakah engkau hendak juga
Ketika saya masih menyayangimu, apakah engkau juga

Sudah lah, cukup sudah hati ini menyimpan rasa ini
Tak ada guna, tak ada arti
Di simpan hanya akan menjadi beban di hati
Semakin lama, semakin sakit pula terasa

Diriku kini ingin bebas, bagai burung yang terbang melintasi cakrawala kemanapun dia mau
Tak mau lagi diriku di belenggu oleh rasa sesat ini
Hanya menggerogotiku, meracuniku, memberatkanku
Biarkan kini ku melayang di angkasa, melebur bersama ombak di lautan, dan hilang bagai hembus angin