widgeo.net

Rabu, 16 Oktober 2013

Bangkit itu . . .

video


Bangkit itu susah. . . .
Susah melihat orang lain susah, senang melihat orang lain senang

Bangkit itu takut. . . .
Takut korupsi, takut makan yang bukan haknya

Bangkit itu mencuri. . . .
Mencuri perhatian dunia dengan prestasi

Bangkit itu marah. . . .
Marah bila martabat bangsa di lecehkan

Bangkit itu malu. . . .
Malu jadi benalu, malu karena minta melulu

Bangkit itu tidak ada. . . .
Tidak ada kata menyerah, tidak ada kata putus asa


Bangkit itu aku. . . . Untuk Indonesia ku

Kamis, 16 Mei 2013

NASIONALISME !!!


Negara ku sayang, Negara ku malang. Pemerintahnya pusing, apalagi Rakyatnya


            Sore ini saya nonton berita di TV, yah seperti biasa, “bad news is a good news” itulah pendapat saya dengan pemberitaan yang di siarkan di beberapa stasiun TV swasta negeri ini. Di mulai dari kasus (*maaf) pemerkosaan, pembunuhan, tawuran antar pelajar, bentrok antara masyarakat dengan pihak kepolisian, korupsi, pembayaran gaji yang belum tuntas selama 4 bulan bagi petugas kebersihan di Jakarta dan lain sebagainya. Yah…everything is a bad news, but MAYBE FOR THEM bad news is a good news.
            Yahhh…tapi bukan itu inti dari tulisan saya kali ini, melainkan isi dari berita-berita tersebut, yah walaupun kebanyakan yang di siarkan adalah bad news tapi itulah FAKTA nya, fakta yang seharus nya menjadi perhatian bagi kita semua, bukan hanya Pemerintah, karena tidak hanya Pemerintah yang menjalankan Negara ini, bukan hanya Kepolisian, karena tidak hanya Kepolisian yang menjaga keamanan dan ketertiban Negara ini, dan bukan juga hanya untuk Masyarakat, karena tidak hanya Masyarakat yang menjadi unsur dalam suatu negara, namun buat kita semua. Sekali lagi…buat KITA SEMUA YANG MERASA WARGA NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA !!
            Sungguh tragis nan dilematis, ketika melihat pemberitaan tersebut, sontak saya sedih, kecewa, marah dan sebagainya, namun kepada siapa??kepada siapa saya pantas untuk marah, kepada siapa saya pantas untuk kecewa, kepada Pemerintah kah?kepada Kepolisian kah?Kepada Masyarakat kah?atau kepada siapa?
            Menyedihkan sekali ketika melihat pemberitaan tersebut, segitu rusaknya kah moral bangsa kita?bangsa yang dahulu kala berjuang bersama-sama untuk sebuah kedaulatan, bangsa yang dahulu saling menyokong satu sama lain untuk memperjuangkan kebebasan dari kaum penjajah, bangsa yang terkenal dengan semangat juangnya yang sangat tinggi…namun apa yang terjadi sekarang? Saling bunuh, saling merusak, saling menjatuhkan, mementingkan ego pribadi ataupun kelompok, dan lain sebagainya. . .dimana kah kau simpan jiwa NASIONALISME mu, sudah kah hilang tak membekas? Atau sudah tidak kau kenal lagi karena Negara kita sudah lama merdeka nya? Perlu kah bangsa penjajah kembali mengusik kemerdekaan kita dan baru kita kembali sadar akan NASIONALISME kita? Pikir...Renungkanlah…

            Nasionalisme itu merupakan kebersamaan, kebersamaan namun tidak berarti harus sama, tidak berarti harus satu, namun Nasionalisme menurut saya yang kita anut, yang kita pahami selama ini yaitu bersama-sama dalam perbedaan yang kita miliki. Bersama-sama dalam membangun bangsa. Menyatu dalam berbagai keberagaman yang kita miliki. Menyatu dalam menjaga martabat bangsa. Itulah yang seharusnya kita terapkan selama ini, namun pertanyaan itu muncul kembali di benak saya, apakah kita sudah lupa akan hal itu ?? bagaimana tidak, tawuran, pembunuhan, pemerkosaan, korupsi dan lain sebagainya menjadi bukti nyata bahwa, kita tidak lagi bersama-sama membangun bangsa, kita tidak lagi menyatu dalam menjaga martabat bangsa, namun saat ini kita sedang saling menjatuhkan, saling mementingkan ego pribadi maupun kelompok. Menyedihkan. . .Mengecewakan. . .
            Saya teringat salah satu teori pembentukan negara, yaitu teori perjanjian masyarakat, yang secara sederhana menyatakan seperti ini, awal mulanya suatu negara tuh terbentuk karena adanya kesamaan nasib/ tujuan sehingga mereka berkumpul dan membentuk kelompok, kelompok ini pun selanjutnya memilih pemimpin diantara mereka yang nantinya pemimpin inilah yang bertugas untuk mengarahkan dan memimpin kelompoknya untuk mencapai tujuan bersama, dalam pengangkatan pemimpin tersebut, anggota kelompok memberikan sebagian haknya kepada pemimpin, Jean Jacques Rousseau dalam bukunya Du Contract Social berpendapat bahwa setelah menerima mandat dari rakyat, penguasa mengembalikan hak-hak rakyat dalam bentuk hak warga negara (civil rights) Ia juga menyatakan bahwa negara yang terbentuk oleh Perjanjian Masyarakat harus menjamin kebebasan dan persamaan. Penguasa sekadar wakil rakyat, dibentuk berdasarkan kehendak rakyat (volonte general). Maka, apabila tidak mampu menjamin kebebasan dan persamaan, penguasa itu dapat diganti.
            Dari teori tersebut, bisa kita memahami bahwa sebuah negara merupakan tanah bersama, milik bersama, sehingga sudah seharusnya menjadi tanggung jawab bersama untuk menjaga dan untuk melestarikannya. Semoga tulisan ini bisa menjadi refleksi bagi kita semua untuk kembali mengingat dan menyadarkan kita akan latar belakang dan sejarah perjuangan sehingga terbentuknya Negara kita, Negara Kesatuan Republik Indonesia.
            Kalau bukan kita yang memulai untuk sadar dan memperbaiki Negara kita, kemudian siapa lagi ? Kalau bukan sekarang, kemudian kapan lagi ? kalau kita memang sayang Negara kita, jangan tunggu semakin hancur negara kita baru kemudian kita berceloteh, Negaraku Sayang, Negaraku Malang. Jangan tunggu rusuh negara kita baru kita sibuk saling menyalahkan, karena Pemerintah pun akan bingung, dan kalau pemerintahnya saja sudah bingung, apalagi masyarakatnya ??
            Namun saya masih memiliki keyakinan akan bangsaku, akan negeriku ini, bahwa tidak semua rakyat Negeriku seperti itu, itu hanyalah segelintir manusia yang belum paham dan belum menyadari akan arti penting NASIONALISME itu sendiri. Saya yakin masih begitu banyak rakyat Negeriku diluar sana yang sedang berjuang untuk membangun dan memperbaiki Negeri ini dengan caranya masing-masing.
            Inilah Negeriku, inilah Bangsaku, Negerimu, Bangsamu, Negeri kita semua, Bangsa kita semua. Mari kita jaga bersama, kita bangun bersama dan kita lestarikan bersama. MERDEKA !!!


Jumat, 26 April 2013

Kepercayaan


KEPERCAYAAN


Jabatan itu amanah
Amanah itu kepercayaan
Kepercayaan itu layaknya sebuah kertas putih bersih dan tidak kusut
Sehingga betul-betul harus dijaga, jika tidak. . .
Maka ketika kertas tersebut kotor dan koyak, kertas tersebut tidak akan pernah bisa menjadi bersih sebersih awalnya, bahkan walau di bersihkan sekalipun pasti tetap akan meninggalkan bekas
Seperti itu juga lah kepercayaan, ketika ia tidak di jaga, maka kepercayaan tersebut akan susah kembali … walaupun kita di beri kesempatan kembali, namun ada rasa khawatir yang besar mendampingi kepercayaan yang di berikan
Oleh karena itu, ketika diri kita di berikan sebuah kepercayaan, maka jagalah ia, jangan kau sia-siakan dan jangan kau kecewakan orang yang memberikan kepercayaan tersebut


Berbicara mengenai kepercayaan, saya teringat dengan sebuah doktrin yang pernah saya dapatkan waktu itu, bunyinya seperti ini :
          “ketika anda kami pilih, maka buatlah kami bangga karena kami telah memilih anda. Namun ketika kami tidak memilih anda, maka buatlah kami kecewa karena tidak memilih anda”
yah sebuah doktrin dengan kata-kata yang cukup simple menurut saya, namun memiliki pesan yang luas dan mendalam.
Di sini saya akan menjelaskan maksud dari doktrin tersebut, menurut perspektif saya..(tiap orang memiliki perspektifnya masing-masing, ini versi ku, versi mu apa?? :D )

“ketika anda kami pilih, maka buatlah kami bangga karena kami telah memilih anda”
Kalimat pertama ini menjelaskan bahwa, ketika kita di pilih, maka itu sama halnya dengan kita di berikan kepercayaan. Kita di pilih, karena orang yang memilih kita percaya bahwa kita memiliki kemampuan dan keterampilan yang lebih dari orang-orang lainnya. Kita di yakini bahwa kita mampu melakukan perubahan-perubahan demi tercapainya tujuan yang telah di tetapkan. Oleh karena itu ketika kita telah di pilih, telah di berikan kepercayaan, maka tunjukkanlah kinerja terbaik kita, sehingga nantinya orang yang telah memilih kita bisa bangga dan bersyukur, karena telah tepat memilih dan memberikan kepercayaan tersebut kepada kita.

Selanjutnya kalimat kedua berbunyi :
“… Namun ketika kami tidak memilih anda, maka buatlah kami kecewa karena tidak memilih anda”
Maksud dari kalimat ini ialah, ketika kita tidak terpilih maka jangan kecewa, jangan sakit hati. Karena sesungguhnya yang harus kecewa ialah dia yang tidak memilih anda.
Namun dia hanya akan kecewa ketika kita memang betul-betul bisa menunjukkan kinerja terbaik kita,  inilah yang harus diperhatikan, karena kebanyakan dari kita (semoga yang baca artikel ini tidak termasuk, amien :D ) akan menurun motivasinya ketika tidak terpilih, sehingga akan mempengaruhi kinerja dan potensi yang sebenarnya kita miliki akan menjadi sia-sia, padahal sebenarnya momen ini sangat penting untuk menjadi ajang pembuktian bahwa sebenarnya kita ini memiliki potensi yang besar, kita ini memiliki kemampuan dan keterampilan yang lebih dari mereka yang telah terpilih atau dari yang lainnya. Inilah momen dimana kita seharusnya tetap menunjukkan kinerja terbaik kita, sehingga dia nantinya akan menyadari bahwa ada seseorang yang berpotensi yang tidak dia pilih, dan akhirnya dia akan kecewa karena telah tidak memilih anda.